MEMULIHKAN KASIH YANG MULAI DINGIN (Why. 2:4)
MEMULIHKAN KASIH YANG MULAI DINGIN
Wahyu
2:4: Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan
kasihmu yang semula.
Firman
Tuhan ini awalnya ditujukan kepada jemaat, tetapi secara rohani sangat dalam
jika kita renungkan dalam konteks pernikahan.
Sering
kali, hubungan suami-istri tidak hancur karena konflik besar, tetapi karena
sesuatu yang lebih halus misalnya kasih yang perlahan memudar. Tidak ada
ledakan, tidak ada pertengkaran hebat, hanya jarak yang makin terasa. Dulu
hangat, sekarang biasa saja. Dulu penuh perhatian, sekarang sekadar menjalani.
Menariknya,
dalam Wahyu 2, Tuhan tidak berkata bahwa jemaat itu berhenti melakukan hal-hal
yang benar. Mereka tetap melayani, tetap setia dalam banyak hal. Tetapi Tuhan
melihat sesuatu yang lebih dalam, misalnya hati mereka tidak lagi sama. Kasih
yang mula-mula itu sudah tidak ada.
Begitu
juga dalam pernikahan. Suami istri bisa tetap menjalankan peran, seperti bekerja,
mengurus rumah, berbicara seperlunya, tetapi tanpa kasih yang hidup, semua itu
menjadi kering. Hubungan berubah dari “hidup bersama” menjadi hanya “tinggal bersama.”
Kasih
mula-mula itu biasanya sederhana, seperti perhatian kecil, kerinduan untuk
dekat, keinginan untuk mengerti, dan kesediaan untuk mengalah. Namun seiring
waktu, rutinitas, luka-luka kecil yang tidak diselesaikan, dan kelelahan hidup
bisa membuat hati menjadi tertutup.
Melalui
firman ini, Tuhan seolah mengajak untuk jujur, apakah kasih itu masih ada seperti dulu? Jika
tidak, ini bukan sekadar masalah pasangan, tetapi juga masalah rohani. Karena
kasih sejati dalam pernikahan bersumber dari Tuhan sendiri.
Yang
indah, teguran Tuhan dalam firman Tuhan ini bukan untuk menghukum, tetapi untuk
memulihkan. Dalam ayat selanjutnya, Tuhan mengajak untuk “ingat” dan “kembali.”
Ini berarti selalu ada jalan pulang. Kasih yang dingin bukan akhir dari cerita.
Dalam
konteks pernikahan, kembali kepada kasih mula-mula berarti mulai lagi dari
hal-hal kecil, misalnya belajar mendengar tanpa menghakimi, berani meminta
maaf, memilih untuk peduli walaupun perasaan belum sepenuhnya pulih. Kadang
kasih tidak dimulai dari perasaan, tetapi dari keputusan untuk mengasihi.
Lebih
dari itu, pemulihan hubungan suami-istri sering kali dimulai dari pemulihan
hubungan pribadi dengan Tuhan. Ketika hati kembali dihangatkan oleh kasih
Tuhan, maka perlahan hati itu juga bisa menghangat kepada pasangan.
Pergumulan
ini memang tidak mudah. Tetapi justru di titik dingin seperti ini, kasih yang
sejati bisa dibentuk, bukan lagi kasih yang bergantung pada emosi, tetapi kasih
yang bertahan, yang memilih setia, dan yang mau diperbarui oleh Tuhan setiap
hari.
Kasih
yang mula-mula bisa ditemukan Kembali, bukan dengan mengulang masa lalu, tetapi
dengan membiarkan Tuhan menghidupkan kembali hati yang mungkin sudah lama
terasa dingin. Amin
LAGU
PUJIAN
1.
KASIH
DARI SURGA
Kasih dari surga
memenuhi tempat ini
Kasih dari Bapa
Surgawi
Kasih dari Yesus
mengalir di hatiku
Membuat damai
dihidupku
Mengalir kasih
dari tempat tinggi
Mengalir kasih
dari Tahta Allah Bapa
Mengalir mengalir
mengalir dan mengalir
Mengalir memenuhi
hidupku
1.
2. KASIH
SETIAMU
Lebih tinggi dari langit biru
KebaikanMu yang tlah Kau nyatakan
Lebih dalam dari lautan
BerkatMu yang telah kuterima
Sempat membuatku terpesona
Apa yang tak pernah kupikirkan
Itu yang Kau sediakan bagiku
Siapakah aku ini Tuhan
Jadi biji mata-Mu
Dengan apakah kubalas Tuhan
S'lain puji dan sembah Kau
2.
Posting Komentar